Punya Info?
FilmIndonesia.co.id
FilmIndonesia.co.id
Topik · Film

Crocodile Tears

2 berita tentang Crocodile Tears di FilmIndonesia.co.id

Berita Tiga Bahasa, Dua Negara, Satu Kisah Jin, Horor Baru Kevin Rahardjo Siap Menuju 2027 The Land of Jinn karya Kevin Rahardjo diperkenalkan kepada calon mitra pendanaan di Tokyo Gap-Financing Market sebagai ko-produksi pertama Indonesia dan Kirgistan. 28 Oktober 2026, 18:57 WIB

Tentang Film Ini

Crocodile Tears (2026)

Johan tinggal bersama Mama. Di sebuah penangkaran buaya. Kumuh, jarang dikunjungi wisatawan. Mama, ibu tunggal yang sangat protektif. Percaya dunia luar penuh hal yang menyakiti anaknya. Mereka hidup tenang, nyaris monoton. Bergantung pada seekor buaya putih yang dipercaya membawa keberuntungan. Semua berubah saat Arumi datang. Johan mengajaknya tinggal bersama mereka. Hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi sejak itu. Ketegangan demi ketegangan muncul. Sampai Mama memutuskan, ada sesuatu yang harus segera ia lakukan. Drama psikologis Indonesia jarang berani menjalin obsesi keibuan dengan kengerian yang mengintai selembut ini. Kebanyakan drama keluarga memilih konflik yang lebih terbuka sejak awal. Film ini memilih ketegangan yang dibangun perlahan lewat keheningan dan rutinitas. Nuansanya mengingatkan pada thriller coming-of-age yang menjalin kasih sayang berlebihan dengan ancaman yang tak kasat mata. Bukan karena ceritanya serupa. Tapi karena keduanya percaya, cinta seorang ibu yang terlalu protektif bisa berubah jadi sesuatu yang mencekik anaknya sendiri. Johan adalah karakter yang mudah membuat penonton bersimpati. Ia hidup dalam kendali penuh ibunya. Namun kehadiran Arumi membuka keinginannya akan kebebasan yang sesungguhnya. Dilemanya terasa nyata justru karena itu. Yusuf Mahardika tampil dengan kegelisahan yang jadi jantung film ini. Dari kehidupan tenang yang monoton. Ke keinginan bebas yang tumbuh lewat Arumi. Hingga ketegangan yang mengancam hubungannya dengan Mama sendiri. Marissa Anita menghidupkan Mama, sosok yang cintanya berubah menjadi ancaman paling nyata dalam cerita ini. Disutradarai oleh Tumpal Tampubolon dalam debut penyutradaraan panjangnya, "Crocodile Tears" tampil sebagai drama psikologis yang telah diputar di lebih dari 30 festival internasional. Film ini tidak selalu memberi jawaban dengan mudah. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Kalau banyak drama keluarga fokus pada kasih sayang yang jelas arahnya, film ini lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih gelap -- kapan cinta seorang ibu berhenti melindungi dan mulai mengekang anaknya sendiri. Pertanyaan itu tetap membekas, bahkan lama setelah film selesai. FAQ: 1. Apakah Crocodile Tears meraih penghargaan internasional? Ya. Meraih Best Screenplay di Asian Film Festival Barcelona 2025 dan lima nominasi Festival Film Indonesia 2024. 2. Apa tema utama film ini? Obsesi keibuan, kebebasan anak, dan ketegangan psikologis dalam keluarga. 3. Siapa tokoh utama film ini? Johan dan Mama, diperankan oleh Yusuf Mahardika dan Marissa Anita. 4. Siapa sutradara film ini? Tumpal Tampubolon. 5. Cocok untuk penonton dewasa yang menyukai drama psikologis dengan tema hubungan ibu-anak yang kompleks.

Lihat halaman film →

Pemeran & Kru