Enam
18 berita tentang Enam di FilmIndonesia.co.id
Data & Statistik
18 IMAX, 5 Layar 4DX, dan 82 Dolby Atmos: Berapa Banyak Format Premium yang Dimiliki Indonesia?
Data & Statistik
The Second-week Cliff: Bagaimana Film Indonesia Kehilangan Layar dalam Hitungan Hari
Data & Statistik
26 Bioskop Baru, 325 Kota Masih Tanpa Layar: Ke Mana Ekspansi Bioskop Indonesia Sebenarnya Pergi?
Data & Statistik
Peta Kekuatan Bioskop Indonesia: XXI, CGV, dan Cinepolis dalam Angka
Data & Statistik
Film Bagus, Layar Berkurang: Mengapa Kualitas Tinggi Tidak Menjamin Penonton di Bioskop Indonesia
Data & Statistik
Bagaimana Bioskop Alternatif Menyelamatkan Film Indonesia Setiap Tahunnya?
Tentang Film Ini
Sekelompok remaja kota yang gemar membuat film pendek, Casey, Eric, Bowo, David, Maya, Novi, dan Christian, berencana membuat film horor untuk diikutsertakan dalam festival film pendek. Eric mengajak seluruh kelompoknya untuk terlibat dalam proyek itu. Tessa, mantan kekasih Eric, menemukan sebuah rumah tua yang cocok sebagai lokasi syuting mereka. Rumah itu dijaga oleh seorang lelaki tua misterius yang memperingatkan bahwa rumah tersebut memiliki jiwanya sendiri. Namun kelompok itu tetap melanjutkan rencana mereka, tanpa menyadari bahwa teror yang akan mereka syuting justru menjadi kenyataan yang mengancam nyawa mereka satu per satu. Horor Indonesia pertengahan 2000-an jarang berani menjalin proses pembuatan film dengan teror nyata seperti ini. Kebanyakan horor remaja memilih lokasi angker tanpa alasan produksi yang jelas. Film ini memilih jalan yang lebih meta. Ia menjadikan proses syuting film horor pendek sebagai pemicu teror sesungguhnya bagi para pembuatnya. Sepenuhnya. Lewat rumah tua terpencil yang dijaga penjaga misterius sejak awal cerita. Sampai penonton menyaksikan bagaimana batas antara fiksi yang mereka buat dan kenyataan yang mereka alami semakin kabur. Nuansanya mengingatkan pada horor remaja klasik ala Scream yang menjalin pembuatan film dengan teror nyata di baliknya. Bukan karena ceritanya serupa. Tapi karena keduanya percaya bahwa mencoba menciptakan teror fiksi bisa membuka pintu bagi bahaya yang jauh lebih nyata. Ada juga jejak drama persahabatan lewat dinamika kelompok yang mulai retak ketika teror sesungguhnya mengancam mereka satu per satu. Kelompok remaja ini adalah karakter yang mudah membuat penonton was-was. Mereka datang dengan semangat kreatif membuat film horor untuk festival. Namun peringatan penjaga rumah yang mereka abaikan justru membawa mereka pada teror yang jauh melampaui skenario yang mereka tulis sendiri. Ketegangan mereka terasa nyata justru karena itu. Winnie Yanthi membawakan peran Casey dengan ketegangan yang meningkat sepanjang film, bersama Putri Patricia sebagai Tessa yang menemukan lokasi angker itu. Dari semangat kreatif membuat film. Ke peringatan yang diabaikan. Hingga teror nyata yang mengancam seluruh kelompok pembuat film ini. Barry Prima turut menghidupkan sosok penjaga misterius yang memperingatkan bahaya rumah tua tersebut. Disutradarai oleh Stephen Odang, "En6m" tampil sebagai horor remaja bergaya meta yang menjalin pembuatan film horor dengan teror yang sesungguhnya nyata. Film ini tidak selalu memberi jawaban dengan mudah. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Kalau banyak horor remaja fokus pada lokasi angker tanpa penjelasan, film ini lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih meta -- apa yang terjadi ketika usaha menciptakan teror fiksi justru membangkitkan bahaya yang jauh lebih nyata dari yang pernah dibayangkan. Pertanyaan itu tetap membekas, bahkan lama setelah film selesai. FAQ: 1. Apakah En6m film horor bergaya meta? Ya. Film ini menjalin proses pembuatan film horor pendek dengan teror yang sesungguhnya nyata. 2. Apa tema utama film ini? Pembuatan film, peringatan yang diabaikan, dan teror yang mengancam kelompok pembuat film. 3. Siapa tokoh utama film ini? Casey, diperankan oleh Winnie Yanthi. 4. Siapa sutradara film ini? Stephen Odang. 5. Cocok untuk penonton seperti apa? Penonton yang menyukai horor remaja bergaya slasher dengan sentuhan meta ala Scream.