Opera Jawa
1 berita tentang Opera Jawa di FilmIndonesia.co.id
Awards
Garin Nugroho Berkaca-kaca di Tokyo, Merah Sebelum Fajar Menguji Emosi Penonton Jepang
Film terbaru sutradara Indonesia itu tampil perdana di hadapan publik dalam kompetisi utama Tokyo International Film Festival ke-39. Pengumuman pemenang dijadwalkan 4 November. 28 Oktober 2026, 09:38 WIB
Tentang Film Ini
Setio dan Siti, sepasang suami istri, menjalani hidup sederhana sebagai pembuat gerabah di sebuah desa Jawa. Ludiro, seorang pengusaha kaya dan berkuasa yang telah lama mencintai Siti, berusaha merebutnya dengan segala cara. Setio berusaha mempertahankan istrinya, memicu konflik yang perlahan berkembang menjadi kekerasan yang melibatkan seluruh desa. Kisah ini merupakan reinterpretasi modern dari kisah penculikan Sinta dalam Ramayana, di mana Ludiro memerankan sosok Rahwana yang berusaha merebut Siti dari suaminya. Seluruh cerita disampaikan lewat nyanyian dan tarian, tanpa satu pun dialog terucap sepanjang film. Film musikal Indonesia jarang berani seambisius ini. Kebanyakan drama percintaan memilih dialog konvensional untuk menyampaikan cerita. Film ini memilih jalan yang jauh lebih berani. Ia menceritakan seluruh kisahnya lewat nyanyian gamelan dan tarian Jawa, tanpa satu kata pun diucapkan secara langsung. Sepenuhnya. Lewat kolaborasi dengan seniman instalasi dan penari yang menjadi pelakon utama, menciptakan visual yang memukau sepanjang film. Sampai penonton internasional mengakui film ini sebagai bukti nyata ambisi sinema Indonesia yang jarang terlihat sebelumnya. Nuansanya mengingatkan pada karya sinema musikal yang menjalin mitologi kuno dengan tema kekerasan dan ketimpangan sosial modern. Bukan karena ceritanya serupa. Tapi karena keduanya percaya bahwa kisah cinta segitiga klasik bisa menjadi cermin bagi kekerasan dan kekuasaan yang masih relevan hingga kini. Ada juga jejak kritik sosial lewat cara Ludiro menggunakan kekuasaan ekonominya untuk mengendalikan seluruh aktivitas perdagangan desa. Siti adalah karakter yang mudah membuat penonton bersimpati. Ia datang sebagai perempuan yang terjebak di antara cinta suaminya dan ambisi seorang penguasa yang tidak pernah berhenti mengejarnya. Namun posisinya yang terjepit membuat konflik ini terasa jauh lebih personal dari sekadar pertarungan kekuasaan. Kerentanannya terasa nyata justru karena itu. Artika Sari Devi membawakan peran Siti dengan ekspresi tari yang meraih penghargaan Aktris Terbaik di Festival de Nantes 2006. Dari kehidupan sederhana. Ke ancaman yang mengoyak rumah tangganya. Hingga tragedi yang lahir dari kecemburuan dan kekuasaan yang tidak terkendali. Martinus Miroto dan Eko Supriyanto turut menghidupkan pertarungan cinta dan kekuasaan lewat tarian yang memukau ini. Disutradarai oleh Garin Nugroho, "Opera Jawa" tampil sebagai film musikal yang meraih Silver Screen Award di Singapore International Film Festival. Film ini tidak selalu memberi jawaban dengan mudah. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Kalau banyak drama percintaan fokus pada dialog untuk menyampaikan konflik, film ini lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih artistik -- bagaimana nyanyian dan tarian tradisional Jawa bisa menyampaikan kekerasan dan ketimpangan sosial modern tanpa satu kata pun diucapkan. Pertanyaan itu tetap membekas, bahkan lama setelah film selesai. FAQ: 1. Apakah Opera Jawa sepenuhnya tanpa dialog? Ya. Seluruh cerita disampaikan lewat nyanyian dan tarian berbahasa Jawa, tanpa dialog biasa. 2. Apa tema utama film ini? Cinta segitiga, kekuasaan, kekerasan sosial, dan reinterpretasi modern kisah Ramayana. 3. Siapa tokoh utama film ini? Siti dan Setio, diperankan oleh Artika Sari Devi dan Martinus Miroto. 4. Siapa sutradara film ini? Garin Nugroho. 5. Cocok untuk penonton seperti apa? Penonton yang menyukai sinema artistik dengan perpaduan musik tradisional dan tema sosial yang berat.