2025 jadi tahun rekor. 80,27 juta penonton bioskop sepanjang tahun. Agak Laen 2 pecahkan rekor sepanjang masa, 10,5 juta penonton. Media ramai memberitakannya.
Tapi ada cerita lain yang jarang muncul di headline.
Sejak 2004, sekitar setengah film panjang yang diproduksi di Indonesia tidak pernah tayang di bioskop. Bukan karena jelek. Bukan karena gagal sensor. Sekadar tidak kebagian layar. Data dari sarasehan Taman Budaya Yogyakarta, Juni 2026, memperjelas polanya: dari 250 judul yang lulus sensor LSF tahun 2025, cuma 125 yang berhasil dapat slot tayang komersial.
Sisanya ke mana? Selesai diproduksi, lalu menghilang begitu saja tanpa pernah ditonton siapa pun di luar tim produksinya.
Skalanya jauh lebih besar dari itu. Sepanjang 2025, Ditjen Kebudayaan mencatat 2.732 izin produksi film diterbitkan. Yang akhirnya tayang di bioskop cuma 201 judul. Jumlah layar juga jadi biang keladinya: 517 lokasi bioskop, 2.145 layar. Jauh dari cukup untuk menampung ratusan judul baru tiap tahun, apalagi untuk film yang tidak dianggap "layak jual".
Di sinilah ruang di luar jalur mainstream ambil alih peran: layar tancap komunitas, bioskop mikro independen, sampai program pemutaran yang kini mulai difasilitasi negara.

Dari Misbar ke Sinema Mikro
Ruang alternatif bukan hal baru. Jauh sebelum ada jaringan bioskop seperti sekarang, orang Indonesia sudah nonton film di lapangan terbuka. Namanya misbar, singkatan dari "gerimis bubar". Beberapa judul diputar semalam, gratis, sambil jadi ajang pasar malam dan kumpul warga.
Tradisi ini nyaris mati waktu bioskop dalam ruangan dan monopoli distribusi era Orde Baru mengambil alih. Tapi tidak pernah benar-benar hilang. Di Jabodetabek, Karawang, Cirebon, jasa layar tancap masih jalan, dikelola komunitas seperti Persatuan Layar Tancap Indonesia. Sekarang lebih sering dipakai buat hajatan warga ketimbang tontonan komersial. Sempat hidup lagi waktu pandemi, karena tanah lapang cocok untuk jaga jarak.
Di Bandung, semangat serupa hidup lewat komunitas yang menjadikan nonton bareng sebagai ruang diskusi, bukan sekadar hiburan. Tahun 2026, semangat nostalgia ini bahkan menghidupkan gedung bioskop lama yang sudah lama mangkrak. Di Tabanan, Bali, eks Tabanan Theatre yang jadi pusat hiburan era 90-an dihidupkan lagi lewat layar tancap, hasil kolaborasi komunitas PALKA dan Asa Films. Warga sekitar ikut diskusi di sana, bukan cuma nonton.

Peta Ruang Putar Hari Ini
Sekarang, pilihannya jauh lebih beragam. Di Jakarta saja, ada lebih dari selusin ruang di luar XXI dan CGV.
Kineforum dan Kinosaurus sudah lama jadi rujukan utama di Jakarta Selatan. Programnya konsisten: film independen dan klasik yang jarang masuk bioskop biasa. Sinema Sang Akar di Tebet lebih intim lagi, cuma menampung 25 penonton per sesi. Mereka rutin kolaborasi dengan Radiant Cinema di Ciputat, mulai dari karya Usmar Ismail sampai film sutradara internasional. Cinecenter di Kemang jadi pendatang baru, menawarkan ruang mirip bioskop mini sampai ruang privat. Jakarta Cinema Club menjaga ritme bulanan, dari film lawas Hollywood sampai sinema Asia pilihan.
Di luar kota besar, bentuknya lebih akar rumput. Komunitas Kembang Gula di Solo jalankan Srawung Sinema, layar tancap keliling ke sembilan titik tiap bulan, dipadukan diskusi soal isu warga setempat. Di Jambi, Komunitas Gemulun Indonesia mencatat penonton yang nyaris menyentuh angka ribuan tiap kali menggelar pemutaran di daerah yang minim akses bioskop.
Polanya jelas. Ruang alternatif tumbuh paling subur justru di titik yang paling jauh dari bioskop komersial.

Negara Mulai Turun Tangan
Sejak 2022, negara mulai ambil peran lewat Dana Indonesiana, dana abadi kebudayaan yang dikelola Ditjen Kebudayaan Kemendikbud. Lewat skema Sinema Mikro, 39 komunitas film di seluruh Indonesia difasilitasi untuk menggelar pemutaran di daerah yang belum punya gedung bioskop sama sekali. Bukan cuma buat nonton. Programnya diarahkan untuk memperbanyak ruang pertemuan budaya berbasis audio-visual.
Ada juga Layar Indonesiana, kompetisi produksi film pendek untuk filmmaker muda dari berbagai daerah. Karya terpilih dapat ruang tayang perdana di festival besar seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Festival jadi jembatan antara komunitas dan penonton yang lebih luas.
Di sisi digital, ada Indonesiana.TV, kanal streaming budaya yang diluncurkan September 2021. Koleksinya sudah lebih dari 1.544 judul, bisa diakses lewat web, aplikasi, sampai IndiHome. Sebagai pelengkap infrastruktur fisik, PT Produksi Film Negara berencana membangun bioskop negara pertama bernama Sinewara, di kompleks kantornya di Otista, Jakarta.

Kenapa Ini Penting untuk Industri
Ruang alternatif bukan sekadar tempat pelarian film yang gagal masuk bioskop. Ada empat peran yang dijalankannya untuk industri secara keseluruhan.
Jaring pengaman distribusi. Dengan separuh film gagal tembus bioskop komersial, ruang alternatif jadi satu-satunya jalan bagi ratusan judul lain untuk ditonton. Tanpa ini, karya-karya itu cuma tersimpan di hard drive.
Tempat lahirnya bakat baru. Layar Indonesiana secara khusus menjaring filmmaker muda, jauh sebelum mereka punya modal untuk bikin film panjang komersial. Banyak sineas yang sekarang aktif di industri arus utama memulai karier lewat jalur festival dan komunitas semacam ini.
Membangun kebiasaan menonton yang lebih kritis. Diskusi yang menyertai pemutaran di Sinema Sang Akar atau Srawung Sinema membentuk penonton yang lebih terbuka pada genre dan gaya cerita yang berisiko secara komersial.
Menjangkau wilayah yang tidak ada bioskopnya. Dengan 2.145 layar yang menumpuk di kota besar, mayoritas wilayah Indonesia praktis tidak punya akses bioskop. Layar tancap keliling jadi satu-satunya cara warga di sana bisa nonton bareng secara rutin.
Yang Belum Selesai
Perannya penting, tapi ekosistemnya masih rapuh. Skalanya kecil. Sinema Sang Akar cuma tampung 25 orang per sesi, jauh dari cukup untuk kota sebesar apa pun. Pendanaan komunitas bergantung pada hibah tahunan seperti Dana Indonesiana, jadi keberlanjutannya tidak pernah pasti dari tahun ke tahun.
Sebarannya juga masih timpang. Nama-nama besar seperti Kineforum dan Kinosaurus terkonsentrasi di Jakarta. Indonesia timur nyaris tidak punya ekosistem serupa. Selama kesenjangan ini belum diatasi, ruang alternatif akan tetap jadi solusi tambal sulam, bukan infrastruktur permanen yang setara jaringan bioskop komersial.
Kesimpulan
Rekor 80 juta penonton bioskop 2025 cuma menceritakan separuh kisah industri film Indonesia. Separuh lainnya, ratusan judul yang tidak pernah tembus layar komersial, hidup lewat jaringan ruang alternatif. Dari tradisi layar tancap yang berusia hampir seabad, komunitas pemutaran independen di kota besar, sampai program yang kini mulai difasilitasi negara.
Selama kesenjangan antara jumlah film yang diproduksi dan jumlah layar yang tersedia belum terselesaikan, ruang di luar jalur mainstream ini akan terus jadi infrastruktur yang tidak tergantikan. Bukan pelengkap.