Rekomendasi Film Filmografi Artikel Jumlah Penonton Komunitas Film Masuk
Analysis

26 Bioskop Baru, 325 Kota Masih Tanpa Layar: Ke Mana Ekspansi Bioskop Indonesia Sebenarnya Pergi?

26 Bioskop Baru, 325 Kota Masih Tanpa Layar: Ke Mana Ekspansi Bioskop Indonesia Sebenarnya Pergi?
Diperbarui: 20 September 2026

Ringkasan Data

  • Dalam kurun 2024–2025, tercatat penambahan sebanyak 26 bioskop membawa 80 layar baru. Hingga Agustus 2025, total bioskop di Indonesia mencapai 491 dengan jumlah layar 2.361, naik dari sebelumnya 2.281 layar (sumber: GPBSI/Hypeabis, September 2025)
  • Fasilitas penayangan film saat ini baru menjangkau sekitar 115 kabupaten dan kota dari total 440 kabupaten/kota yang ada di Indonesia, artinya 325 wilayah atau 78% dari seluruh daerah administratif Indonesia masih tidak memiliki satu pun layar bioskop (sumber: BPI via ANTARA, November 2024)
  • Cinema XXI secara khusus membuka bioskop perdana di 6 wilayah yang belum pernah memiliki jaringan mereka: Timika/Papua Tengah (Oktober 2024), Indramayu, Pematangsiantar, Magelang, Tuban, dan Kota Metro Lampung (sepanjang 2025) — semua terverifikasi dari siaran pers resmi CNMA
  • Hingga akhir 2024, Indonesia memiliki lebih dari 2.200 layar, dan diproyeksikan mencapai 2.700 layar pada 2030 (sumber: JAFF Market/SWA, September 2025) — pertambahan hanya 500 layar dalam 6 tahun, jauh dari target ideal 10.000–15.000 layar yang disebut BPI
  • Dari 28 bioskop baru Cinema XXI dalam dua tahun (16 di 2024, 12 di 2025), sebagian besar masih berada di kota-kota yang sudah memiliki bioskop sebelumnya — hanya 6 yang benar-benar merupakan penetrasi ke wilayah baru

Angka yang Terdengar Besar, tapi Seberapa Besar Sebenarnya?

Ketika Ketua Umum GPBSI Suprayitno mengumumkan penambahan 26 bioskop dalam dua tahun kepada DPR di sidang April 2026, reaksi umum adalah: itu terdengar seperti kemajuan. Dan memang ada kemajuan. Tapi angka itu perlu dibaca dalam konteks yang jauh lebih luas untuk memahami apakah kemajuan itu memadai.

Indonesia memiliki 440 kabupaten dan kota berdasarkan data BPS. Dari jumlah itu, hanya 115 yang memiliki akses ke bioskop. Artinya 325 wilayah, 78% dari seluruh daerah administratif Indonesia, tidak memiliki satu pun layar bioskop. Jika 26 bioskop baru itu semuanya dibangun di wilayah yang belum pernah punya bioskop, itu baru menambah cakupan menjadi 141 kabupaten/kota atau 32% dari total. Tapi realitanya jauh dari itu.

Dari penelusuran siaran pers resmi Cinema XXI, hanya 6 wilayah yang benar-benar merupakan penetrasi perdana dalam dua tahun tersebut. Sisanya adalah penambahan lokasi baru di kota-kota yang sudah memiliki bioskop — misalnya Tenth Avenue XXI di Bandung (yang sudah punya puluhan bioskop XXI), Living World Grand Wisata XXI di Bekasi, atau Bandara City Mall XXI di Tangerang. Ekspansi yang penting secara bisnis, tapi tidak mengubah peta akses budaya nasional secara signifikan.

Timika: Berita Baik dari Ujung Timur

Di antara semua ekspansi yang terjadi dalam dua tahun terakhir, satu pembukaan layak mendapat sorotan khusus karena benar-benar memiliki makna pemerataan yang substantif: Diana Mall XXI di Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, yang diresmikan pada 30 Oktober 2024.

Selain di Timika, Cinema XXI sudah hadir di Jayapura, Sorong, dan Manokwari untuk wilayah Papua. Dengan demikian, Timika menjadi kota keempat di Papua yang memiliki bioskop XXI. Diana Mall XXI hadir dengan tiga studio dan total kapasitas lebih dari 500 kursi. Bagi masyarakat Timika yang selama ini harus melakukan perjalanan jauh jika ingin menonton film di bioskop modern, kehadiran ini adalah perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Menarik bahwa pembukaan ini melibatkan aparat pemerintah daerah secara langsung: Pj. Sekda Mimika hadir dalam peresmian dan menyambut kehadiran bioskop sebagai potensi daya tarik investasi di sektor lain seperti pariwisata dan kuliner. Ini mencerminkan satu dinamika yang sering terjadi dalam ekspansi bioskop ke daerah terpencil: bioskop bukan hanya fasilitas hiburan, ia menjadi sinyal bahwa sebuah kota sudah "modern" dan layak mendapat investasi lebih lanjut.

Pematangsiantar, Indramayu, Magelang: Kota yang Sudah Lama Menunggu

Di Sumatera Utara, Pematangsiantar adalah kota terbesar kedua setelah Medan dengan populasi sekitar 268.000 jiwa. Bertahun-tahun, warganya harus menempuh perjalanan ke Medan jika ingin menonton film di bioskop modern. Suzuya Merdeka Mall Siantar XXI yang diresmikan Juli 2025 mengakhiri penantian itu — warga Pematangsiantar kini tidak perlu ke luar kota hanya untuk ke bioskop.

Kasus Pematangsiantar adalah contoh dari sebuah pola yang berulang dalam ekspansi bioskop Indonesia: kota dengan populasi ratusan ribu jiwa yang secara ekonomi sudah cukup viable untuk mendukung bioskop, tapi bertahun-tahun tidak mendapatkannya karena tidak ada mal besar yang menjadi host. Hampir semua bioskop baru di Indonesia bergantung pada keberadaan pusat perbelanjaan. Ketika mal akhirnya dibangun di sebuah kota menengah, bioskop mengikuti.

Indramayu, dengan populasi kabupaten sekitar 1,93 juta jiwa, adalah kasus yang bahkan lebih mengejutkan secara demografis. Ini adalah kabupaten dengan populasi lebih besar dari beberapa provinsi kecil di Indonesia, namun baru mendapat bioskop pertamanya di awal 2025. Mall Indramayu XXI hadir dengan empat studio Deluxe dan total kapasitas lebih dari 700 kursi.

78% Wilayah Indonesia Masih Tanpa Layar: Peta yang Memprihatinkan

Berdasarkan data Badan Perfilman Indonesia per Februari 2024, sudah ada 517 lokasi bioskop dengan total 2.145 layar di 115 kabupaten dan kota di Indonesia. Sementara menurut data BPS, Indonesia memiliki 349 kabupaten dan 91 kota — total 440 daerah administratif setingkat kabupaten/kota.

Ini berarti jika seseorang tinggal secara acak di salah satu dari 440 kabupaten/kota Indonesia, probabilitas tinggal di daerah yang memiliki akses bioskop hanyalah sekitar 26%. Tiga dari empat orang Indonesia, secara statistik, tinggal di wilayah yang tidak memiliki layar bioskop sama sekali.

Lebih jauh lagi, konsentrasi layar sangat timpang secara geografis. Data konsisten menunjukkan bahwa sekitar 65% layar bioskop Indonesia berada di Pulau Jawa, yang menampung 56% populasi. Sumatera, dengan 22% populasi nasional, hanya memiliki sekitar 15% layar. Pulau-pulau di luar Jawa dan Sumatera, yang menampung gabungan sekitar 22% populasi Indonesia, hanya memiliki sekitar 20% dari total layar nasional, dengan persebaran yang sangat tidak merata.

Mengapa Ekspansi Bergerak Lambat ke Luar Jawa?

Ada beberapa hambatan struktural yang menjelaskan mengapa ekspansi bioskop ke luar Jawa, dan khususnya ke Indonesia Timur, bergerak jauh lebih lambat dari yang dibutuhkan.

Ketergantungan pada ekosistem mal. Hampir seluruh bioskop baru yang dibuka dalam lima tahun terakhir berada di dalam pusat perbelanjaan. Ini bukan pilihan sembarangan: mal menyediakan traffic, parkir, dan ekosistem F&B yang membuat bioskop viable secara finansial. Tapi pembangunan mal baru sendiri sangat tergantung pada kepadatan populasi perkotaan dan daya beli lokal. Di banyak kota menengah di luar Jawa, ekosistem mal yang cukup besar untuk menampung bioskop multipleks belum tersedia.

Biaya investasi yang tinggi dan payback period panjang. Investasi untuk satu layar bioskop baru berkisar Rp6–7,5 miliar. Untuk membuka bioskop multipleks standar dengan lima layar, dibutuhkan Rp30–37,5 miliar. Di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, payback period ini masih masuk akal. Di kota menengah dengan daya beli lebih terbatas, kalkulasinya jauh lebih tipis.

Ketersediaan SDM terampil. Mengelola bioskop modern membutuhkan teknisi proyeksi, staf customer service terlatih, dan manajemen operasional yang kompeten. Di banyak kota di luar Jawa, talent pool ini belum tersedia secara memadai, menambah biaya operasional melalui kebutuhan pelatihan atau relokasi SDM.

Target 2.700 Layar di 2030: Cukupkah?

Business Director JAFF Market Sekarini Seruni dalam siaran pers September 2025 menyebutkan bahwa pertumbuhan jumlah layar bioskop menjadi salah satu pendorong utama industri. Hingga akhir 2024, Indonesia memiliki lebih dari 2.200 layar, dan diproyeksikan mencapai 2.700 layar pada 2030. Ekspansi ini sejalan dengan pertumbuhan GDP per kapita yang stabil, dominasi demografi muda, dan urbanisasi yang cepat.

Tapi perlu ada kejujuran tentang apa yang angka 2.700 itu berarti dalam konteks kebutuhan yang sesungguhnya. Target JAFF Market dan SWA itu — yang sudah merupakan proyeksi optimistis — hanya menambahkan sekitar 500 layar dari posisi saat ini dalam enam tahun ke depan. Sementara Ketua Umum BPI menyebutkan Indonesia butuh setidaknya 15.000 layar untuk menyerap seluruh produksi film nasional secara sehat.

Jika target BPI 15.000 layar adalah angka yang realistis untuk industri yang sehat, dan Indonesia berada di 2.400 layar sekarang, maka dengan kecepatan ekspansi saat ini sekitar 80–100 layar per tahun, target itu baru bisa tercapai dalam 120–130 tahun ke depan. Angka ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menegaskan bahwa kecepatan ekspansi organik berbasis mekanisme pasar saja tidak akan memadai.

Opsi Kebijakan yang Belum Dijalankan

Menteri Kebudayaan dalam pernyataannya November 2024 menyampaikan bahwa pemerintah akan mengupayakan solusi untuk menambah jumlah layar bioskop. "Untuk penambahan layar akan seperti apa? Kita akan mencari jalannya, mungkin bekerja sama dengan pemerintah kabupaten, kota, atau pemerintah provinsi, dan juga tentu saja dengan korporasi," katanya.

Pernyataan ini mencerminkan satu hal: pemerintah menyadari masalahnya, tapi belum memiliki solusi konkret. Beberapa pendekatan yang telah berhasil di negara-negara lain namun belum diterapkan secara sistematis di Indonesia antara lain:

Pertama, model bioskop publik bersubsidi di tingkat kabupaten atau kota, mirip seperti model gedung kesenian atau perpustakaan daerah yang dibiayai pemerintah lokal. Di beberapa negara Eropa, pemerintah kota memiliki dan mengoperasikan bioskop arthouse yang tidak hanya untuk pertunjukan film tetapi juga untuk acara budaya dan pendidikan.

Kedua, insentif pajak untuk pembukaan bioskop di wilayah yang belum memiliki layar, semacam "bioskop zone" di mana investor mendapat keringanan pajak properti atau subsidi operasional selama beberapa tahun pertama.

Ketiga, model kemitraan antara bioskop keliling dan pusat budaya daerah sebagai solusi transisi, sambil menunggu kondisi ekonomi lokal matang untuk mendukung bioskop permanen.

Kota Mana yang Paling Siap Tapi Belum Dapat Bioskop?

Jika kriteria populasi dan ekonomi digunakan sebagai proxy, ada beberapa kota yang secara demografis sudah sangat layak untuk memiliki bioskop tapi hingga saat ini belum mendapatkannya. Data BPS 2024 menunjukkan ada beberapa kota dengan populasi di atas 200.000 jiwa yang masih belum memiliki bioskop multiplex modern.

Tantangan untuk wilayah-wilayah ini sering kali bukan pada sisi permintaan, melainkan pada sisi penawaran: belum ada mal yang cukup besar, atau investor bioskop belum siap dengan risiko yang dirasakan masih terlalu tinggi untuk pasar yang belum teruji.

Kesimpulan: 26 Bioskop Baru Adalah Kabar Baik yang Tidak Cukup

Data dua tahun terakhir menunjukkan bahwa ekspansi bioskop Indonesia sedang terjadi, dan ada semangat nyata dari operator untuk menjangkau wilayah baru. Pembukaan bioskop di Timika adalah langkah yang secara simbolis dan praktis penting. Begitu pula dengan masuknya Cinema XXI ke Pematangsiantar, Indramayu, dan kota-kota menengah lainnya.

Tapi jumlah dan kecepatan ekspansi ini masih jauh dari yang dibutuhkan untuk menjawab kesenjangan struktural antara 115 kota yang bisa menonton dan 325 yang tidak bisa. Dan selama kesenjangan ini ada, percakapan tentang "pertumbuhan industri film Indonesia" perlu selalu dibarengi dengan pertanyaan yang lebih mendasar: pertumbuhan untuk siapa, dan dapat diakses oleh siapa?

Sumber:

  • Hypeabis, "Jumlah Layar Minim, Film Indonesia Saling Kanibal di Bioskop" (10 September 2025) — wawancara Ketua Umum GPBSI Suprayitno: 26 bioskop baru 2024–2025, 80 layar baru, total 491 bioskop dan 2.361 layar per Agustus 2025
  • ANTARA News, "Kementerian Kebudayaan upayakan pemerataan jumlah layar bioskop" (4 November 2024) — data BPI 517 lokasi, 2.145 layar, 115 kab/kota; ANTARA, "Cinema XXI buka bioskop pertama di Timika, Papua Tengah" (31 Oktober 2024); ANTARA, "Cinema XXI bukukan laba bersih Rp776,2 miliar pada 2025" (9 Maret 2026)
  • SWA.co.id, "Bioskop di Indonesia Akan Tembus 2.700 Layar pada 2030" (23 September 2025) — kutipan Sekarini Seruni Business Director JAFF Market; IDN Times Sumut, "Akhirnya Kota Pematangsiantar Punya Bioskop Cinema XXI" (31 Juli 2025); Cinema XXI newsroom, "Pertama Dibuka di Indramayu, Cinema XXI Tawarkan Pengalaman Sinema Terbaik" (2025)