Rekomendasi Film Filmografi Artikel Jumlah Penonton Komunitas Film Masuk
Analysis

Rp 9 Triliun SVOD vs Rp 5,7 Triliun Bioskop: Dua Industri yang Kini Berdampingan di Indonesia

Rp 9 Triliun SVOD vs Rp 5,7 Triliun Bioskop: Dua Industri yang Kini Berdampingan di Indonesia
Diperbarui: 27 September 2026

Ringkasan Data

  • Pendapatan streaming SVOD (Subscription Video on Demand) di Indonesia sepanjang 2024 mencapai US$552 juta atau sekitar Rp 9 triliun, menjadikan Indonesia pasar SVOD terbesar di Asia Tenggara. Angka ini disampaikan oleh Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif pada forum US Business for Indonesia di Jakarta, Juni 2025
  • Pada periode yang sama, Cinema XXI — operator bioskop terbesar Indonesia — membukukan pendapatan Rp 5,7 triliun sepanjang 2024, naik 9,2% dari Rp 5,2 triliun di 2023 (sumber: laporan keuangan BEI CNMA, Februari 2025)
  • Pendapatan SVOD Rp 9 triliun kini hampir dua kali lipat dari pendapatan tiket bioskop Cinema XXI saja (Rp 3,56 triliun atau 62,4% dari Rp 5,7 triliun), dan melampaui total pendapatan gabungan Cinema XXI termasuk F&B
  • Di H1 2025, Cinema XXI membukukan pendapatan Rp 2,8 triliun (turun 2,63% YoY), laba bersih Rp 324 miliar, dan EBITDA Rp 842,4 miliar. Jumlah penonton mencapai 42,5 juta di H1 2025, dengan Q2 melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding Q1
  • Tingkat penetrasi SVOD Indonesia diperkirakan 8,4% pada 2025 dan diproyeksikan mencapai 10% pada 2030, menurut data Kementerian Ekonomi Kreatif
  • Namun perlu dicatat: kedua industri ini tidak sepenuhnya berkompetisi — mereka melayani momen konsumsi yang berbeda, dan film Indonesia yang sukses di bioskop sering kali kemudian memperkuat performa streaming masing-masing platform

Dua Angka yang Mengubah Cara Kita Memahami Industri Hiburan Indonesia

Selama bertahun-tahun, percakapan tentang industri film Indonesia selalu berpusat pada satu metrik: jumlah penonton di bioskop. Berapa juta orang yang datang ke Cinema XXI, CGV, atau Cinepolis untuk menonton sebuah film.

Tapi ada angka lain yang kini tidak bisa diabaikan lagi: Rp 9 triliun. Itu adalah nilai pasar SVOD Indonesia sepanjang 2024 menurut Kementerian Ekonomi Kreatif, menjadikan Indonesia sebagai pasar streaming terbesar di Asia Tenggara. Angka ini bukan proyeksi atau estimasi akademik — ini adalah data yang disampaikan pejabat pemerintah berdasarkan data transaksi riil dari platform-platform seperti Netflix, Disney+, Vidio, Prime Video, dan lainnya.

Menempatkan Rp 9 triliun SVOD di samping Rp 5,7 triliun total pendapatan Cinema XXI seluruhnya tahun 2024 menghasilkan gambar yang sangat jelas: industri streaming sudah lebih besar dari industri bioskop di Indonesia, setidaknya dalam ukuran nilai transaksi langsung konsumen ke platform. Dan ini baru satu tahun data.

Memahami Angka dengan Jujur: Bukan Apple to Apple

Sebelum menarik kesimpulan terlalu jauh, ada beberapa catatan penting yang perlu diungkapkan dengan jujur.

Pertama, Rp 9 triliun SVOD adalah total dari semua platform berbayar (Netflix, Disney+, Vidio, Prime Video, Apple TV+, dan lainnya), bukan satu operator. Bandingkan dengan Rp 5,7 triliun Cinema XXI yang merupakan satu operator saja. Jika total pendapatan seluruh industri bioskop Indonesia dijumlahkan — termasuk CGV, Cinepolis, dan operator lain — angkanya akan lebih tinggi, meski Cinema XXI memegang sekitar 70% pangsa pasar.

Kedua, model bisnisnya berbeda secara fundamental. Rp 9 triliun SVOD adalah pendapatan dari langganan bulanan yang bisa digunakan untuk menonton ratusan konten. Rp 5,7 triliun bioskop adalah pendapatan dari pengalaman sekali tonton di ruang yang tidak bisa direplikasi di rumah. Keduanya mengisi kebutuhan hiburan yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari konsumen Indonesia.

Ketiga, bioskop memiliki komponen F&B yang signifikan. Dari Rp 5,7 triliun Cinema XXI, sebesar 33,6% atau sekitar Rp 1,93 triliun berasal dari penjualan makanan dan minuman. Ini menunjukkan bahwa bioskop bukan hanya bisnis film — ia adalah bisnis pengalaman, di mana popcorn dan minuman menyumbang sepertiga pendapatan total.

Cinema XXI: Pertumbuhan yang Mulai Melandai tapi Fundamental Tetap Kuat

Data keuangan Cinema XXI dari 2021 hingga H1 2025 menggambarkan trajektori yang khas untuk industri post-pandemi: pemulihan kuat di 2022, pertumbuhan solid di 2023–2024, kemudian mulai menghadapi tekanan di 2025.

Dari Rp 1,2 triliun di 2021 (tahun di mana bioskop masih beroperasi dengan kapasitas terbatas karena pandemi), pendapatan tumbuh pesat ke Rp 4,2 triliun di 2022, Rp 5,2 triliun di 2023, dan Rp 5,7 triliun di 2024. Ini adalah pertumbuhan yang mengesankan — hampir lima kali lipat dalam tiga tahun.

Tapi H1 2025 menunjukkan perlambatan. Pendapatan turun 2,63% YoY menjadi Rp 2,8 triliun. Laba bersih turun lebih tajam: 40% YoY menjadi Rp 324 miliar. Penurunan ini sebagian dijelaskan oleh dinamika konten: H1 2025 memiliki beberapa film blockbuster kuat seperti Jumbo (10,2 juta penonton), tapi tidak se-konsisten H1 2024.

Yang menarik adalah komposisi pendapatan tetap stabil: tiket bioskop menyumbang 62,4%, F&B 33,6%, dan lainnya sekitar 4%. Struktur ini sudah terbukti resilient dan konsisten dari tahun ke tahun, menandakan bahwa model bisnis dasar Cinema XXI sangat solid meski menghadapi tekanan dari streaming.

Streaming Indonesia: Pasar yang Tumbuh Lebih Cepat dari yang Diperkirakan

Data US$552 juta pendapatan SVOD Indonesia di 2024 bukan hanya besar secara absolut — ia juga mengindikasikan laju pertumbuhan yang jauh melampaui prediksi sebelumnya. Tingkat penetrasi SVOD yang kini mencapai 8,4% dari pengguna internet Indonesia diproyeksikan tumbuh ke 10% pada 2030.

Namun ada nuansa penting: penetrasi 8,4% dari pengguna internet Indonesia bukanlah 8,4% dari total populasi. Indonesia memiliki sekitar 221 juta pengguna internet per 2024. Artinya basis aktual pelanggan SVOD berbayar sekitar 18–19 juta akun, dengan asumsi rata-rata US$30 per akun per tahun. Ini masih merupakan minoritas dari total populasi 284 juta.

Di sisi lain, pertumbuhan 30,8% pengguna yang berlangganan setidaknya satu platform SVOD adalah angka yang sangat tinggi untuk konteks Asia Tenggara. Indonesia kini menjadi pasar SVOD terbesar di ASEAN, melampaui Thailand, Malaysia, dan Filipina — semua negara yang memiliki GDP per kapita lebih tinggi.

Faktor pendorong utamanya: konten lokal yang semakin kuat. Netflix Indonesia, Vidio, dan Disney+ secara aktif menginvestasikan produksi konten lokal yang menarik segmen penonton Indonesia yang berbeda dari penonton bioskop. Serial drama, reality show, dan dokumenter lokal menarik segmen yang tidak selalu pergi ke bioskop.

Apakah Streaming Membunuh Bioskop Indonesia?

Pertanyaan ini sering diajukan tapi jawabannya lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan.

Data CGV memberikan perspektif menarik. Meski memiliki jaringan yang lebih kecil dari Cinema XXI, CGV Cinemas mencatat laba bersih yang melonjak 155,47% YoY menjadi Rp 25,21 miliar di H1 2025, meski pendapatannya hanya turun tipis 0,46%. Ini menunjukkan bahwa bioskop yang fokus pada diferensiasi dan efisiensi operasional masih bisa tumbuh profitabilitasnya bahkan di tengah tekanan streaming.

Yang lebih penting adalah pola konsumsi: penonton yang berlangganan Netflix tidak serta-merta berhenti ke bioskop. Data penonton bioskop Indonesia justru terus naik — dari 126 juta total penonton di 2024 (termasuk film asing), bioskop Indonesia tidak mengalami penurunan volume yang signifikan. Yang terjadi adalah segmentasi: streaming untuk konten sehari-hari, bioskop untuk event cinematic yang membutuhkan layar besar, suara dolby, dan pengalaman sosial.

Film Indonesia yang sukses besar di bioskop seperti Jumbo (10,2 juta penonton) bahkan kemudian memperkuat performa platform streaming ketika film tersebut dirilis secara digital, karena penonton yang tidak sempat ke bioskop tetap ingin menonton via streaming. Siklus ini — bioskop membangun hype, streaming mengkapitalisasi longtail — adalah model yang kini menjadi standar industri film global.

Dua Industri, Satu Ekosistem

Cara paling tepat untuk memahami hubungan bioskop dan streaming di Indonesia bukan sebagai rivalitas zero-sum, melainkan sebagai dua lapisan dalam ekosistem konsumsi konten yang sama.

Bioskop menyediakan pengalaman first-release yang tidak tergantikan, membangun buzz, dan menghasilkan pendapatan terbesar dalam window pertama film. Streaming mengmonetisasi konten yang sama dalam jangka panjang, menjangkau segmen yang tidak terjangkau bioskop, dan menghasilkan pendapatan dari langganan yang tidak bergantung pada performa satu film tertentu.

Di negara-negara dengan ekosistem film yang matang seperti Korea Selatan dan Jepang, keduanya tumbuh bersama. Tidak ada alasan mengapa Indonesia tidak bisa mengikuti jalur yang sama, terutama mengingat kekuatan konten lokal yang semakin menguat dan demografi muda yang mengonsumsi hiburan lebih banyak dari generasi sebelumnya di segala platform.

Sumber:

  • PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA), Siaran Pers Laporan Keuangan 2024 (27 Februari 2025) via cinema21.co.id newsroom dan IDX BEI; Kompas, "Cinema XXI Cetak Pendapatan Rp 2,8 Triliun di Semester I-2025" (28 Juli 2025); Pasardana.id, "Cinema XXI Bukukan Pendapatan Rp2,8 Triliun di Semester I 2025" (28 Juli 2025)
  • CNBC Indonesia, "Indonesia Negara Nomor 1, Warga RI Paling Banyak Langganan Netflix Cs" (17 Juni 2025) — data Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif: pendapatan SVOD US$552 juta (Rp 9 T) di 2024, Indonesia pasar terbesar di Asia Tenggara; penetrasi SVOD 8,4% pada 2025, proyeksi 10% di 2030
  • Enciety.co, "Revolusi Konsumsi Film: Mungkinkah Platform Streaming Telah Menggeser Bioskop?" (26 Desember 2025) — data CGV laba bersih naik 155,47% YoY di H1 2025; Wikipedia "Cinema of Indonesia" — total penonton bioskop Indonesia 126,22 juta (2024), total layar 2.354