Punya Info?
FilmIndonesia.co.id
FilmIndonesia.co.id
Berita

Empat Film Indonesia Mendarat di Los Angeles, LAIFF 2026 Putar Dua Kandidat Oscar 2027 Gratis di UCLA

Bagikan:
Empat Film Indonesia Mendarat di Los Angeles, LAIFF 2026 Putar Dua Kandidat Oscar 2027 Gratis di UCLA
Empat Musim Pertiwi dan Anak Macan tampil bersama The Last Fifteen Minutes dan Kill Kill Bang Bang dalam pemutaran khusus pada 21 November 2026. (Sumber foto: Instagram.com/laiff_org)

LOS ANGELES – Penonton di Los Angeles akan mendapat kesempatan menyaksikan satu film panjang dan tiga film pendek Indonesia dalam satu hari. Los Angeles Indonesian Film Festival (LAIFF) menggelar pemutaran khusus pada 21 November 2026, pukul 12.30 hingga 18.30, di James Bridges Theater, UCLA. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Pengunjung wajib melakukan RSVP karena kursi terbatas, dan panitia menyiapkan makanan ringan serta minuman.

Dua film di antaranya sedang berada dalam perburuan Oscar 2027, yaitu Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java) dan film pendek Anak Macan (My Plastic Mother). Dua film lainnya adalah The Last Fifteen Minutes dan Kill Kill Bang Bang.

Empat Musim Pertiwi, Wakil Resmi Indonesia di Academy Awards ke-99

Film karya Kamila Andini ini terpilih sebagai wakil resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film pada Academy Awards ke-99. Keputusan diambil dalam rapat pleno Komite Seleksi Oscar Indonesia (IOSC), dan Forka Films mengumumkannya pada 16 September 2026. Film ini menjadi salah satu fokus pemutaran di Los Angeles.

Empat Musim Pertiwi tayang perdana dunia di Toronto International Film Festival pada 13 September 2026, lalu dirilis di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026. Filmnya juga hadir di Busan International Film Festival dalam program A Window on Asian Cinema. Ceritanya mengikuti Pertiwi (Putri Marino), yang kembali ke kampung halaman terpencilnya setelah 20 tahun untuk menata ulang hidupnya.

Selain Putri Marino, film ini dibintangi Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Malasan, Nagra Kautsar, Dwika Pradnyana, dan Hanna Aretha. Produksinya melibatkan kerja sama Indonesia, Singapura, Belanda, Norwegia, Jerman, Prancis, Polandia, dan Thailand. Kamila Andini menyebut filmnya berakar kuat pada budaya Indonesia, tetapi pertanyaan tentang trauma, memori, kekerasan, dan pemulihan bersifat universal.

Terpilih sebagai wakil Indonesia belum menjamin nominasi. Film ini harus bersaing dengan wakil negara lain untuk masuk daftar pendek, baru kemudian ke tahap nominasi. Menurut data Wikipedia, Indonesia belum pernah meraih nominasi di kategori ini sejak pertama kali mengirim wakil pada 1987.

Anak Macan, Dari Bantargebang ke Jalur Oscar

Film pendek Anak Macan karya Amar Haikal mengikuti Eki, bocah yang tinggal di kawasan TPST Bantargebang, Bekasi, dan berusaha mencari benda kenangan untuk mendiang ibunya. Amar menuangkan pengalaman masa kecilnya ke dalam naskah, dan sejumlah anak dari kawasan Bantargebang ikut berperan. Muhammad Alfat Alpriansyah memerankan Eki. Film ini diproduksi Podium Pictures dengan Michael Rainheart sebagai produser dan lahir sebagai karya tugas akhir mahasiswa Fakultas Film dan Televisi IKJ.

Jalur menuju Oscar terbuka setelah Anak Macan menang Best International Short Film di Flickerfest International Short Film Festival ke-35 pada 1 Februari 2026, penghargaan yang menjadikannya memenuhi syarat Academy. Film ini lalu didaftarkan ke kategori Live Action Short Film Oscar 2027. Sebelumnya, filmnya masuk nominasi Film Pendek Terbaik FFI 2025 dan diputar di sejumlah festival lain, termasuk Leeds International Film Festival, Beirut Shorts, Holly Shorts, Atlanta Film Festival, dan Clermont-Ferrand.

Status ini berbeda dari wakil resmi negara. Film pendek tidak dikirim lewat komite nasional, melainkan mendaftar sendiri setelah memenuhi syarat festival. Memenuhi syarat dan mendaftar juga belum berarti masuk nominasi.

The Last Fifteen Minutes, Drama Pernikahan Lintas Budaya

The Last Fifteen Minutes disutradarai Edo Natasha, sineas Indonesia-Amerika yang membuatnya sebagai proyek akhir di Los Angeles Film School. Skenarionya ditulis Candra Aditya, dengan Runny Rudiyanti dan Samuel Selman sebagai pemeran utama. Durasinya 15 menit dengan dialog dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Ceritanya mengikuti keretakan pernikahan Sekar, perempuan muda asal Indonesia, dengan Robert, suaminya yang berkebangsaan Amerika. Los Angeles Film School memilih film ini sebagai nominasi resmi sekolah untuk Student Academy Awards 2025. Edo sebelumnya juga pernah memutar film pendeknya, Boy, di LAIFF.

Kill Kill Bang Bang, Horor Thriller dari Sebuah Restoran

Kill Kill Bang Bang adalah film pendek horor-thriller garapan William Adiguna. Filmnya dibintangi Enzy Storia, Aurora Ribero, dan Elang El Gibran. Ceritanya bermula dari situasi sederhana di sebuah restoran yang berkembang menjadi kejadian tak terduga. Film ini lebih dulu melakukan world premiere di Screamfest Horror Film Festival di Los Angeles pada Oktober 2026, sehingga pemutaran di UCLA menjadi salah satu penayangan lanjutannya di kota yang sama.

LAIFF, Jembatan Sineas Indonesia dan Amerika

LAIFF berdiri untuk menjembatani sineas Indonesia dan sineas Amerika agar bisa bertemu, berjejaring, dan membuka peluang kerja sama. Festival ini merayakan ulang tahun ke-10 pada 2024 di James Bridges Theater, UCLA, lewat pemutaran film panjang Kuasa Gelap dan Sekawan Limo. Pada 2026, pemutarannya hadir dalam format yang lebih ringkas dan bebas biaya.

Peminat dapat mendaftar lewat bit.ly/SSLAIFF2026. Kursi terbatas dan RSVP wajib.

Bagikan:
Tentang Penulis
Randy Sianipar
Reporter
Artikel lain dari Randy Sianipar →

Cerita Terkait